Sabtu, 27 Juli 2019

OPERET NATAL "TERNYATA TUHAN ADA"

Hai gaes, dalam tulisan kali ini aku mau berbagi kenangan manis pelayananku di  Remaja HKBP Takengon. Tepatnya pada Natal Tahun 2010 kami bersama Punguan Ina HKBP Takengon menampilkan sebuah Operet yang berjudul "TERNYATA TUHAN ADA". Operet ini menceritakan realita kehidupan manusia yang meragukan keberadaan dan kuasa Tuhan karena segala kelebihan yang mereka punya di dunia ini. Puji Tuhan operet ini berhasil kami tampilkan dengan baik dan mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Kami semua sangat bersyukur, rasa lelah yang kami rasakan dalam mempersiapkan drama tersebut hilang sekejab, lelah kami terobati dengan berhasilnya kami memainkan operet ini. Big thanks to St. H. Sinaga yang menjadi Pembina kami pada saat itu, yang selalu memotivasi kami untuk menampilkan yang terbaik. Menurut saya ada yang unik dari Operet ini, sbb:

  1. Operet ini adalah kolaborasi Remaja dan Punguan Ina, sangat jarang kan Ibu-ibu gereja mau main drama dan jarang juga kan remaja mau tampil bareng emak-emak. Tapi pada saat itu kami sangat kompak sama ibu-ibu😁😁😊😂
  2. Tidak ada naskah dalam operet ini, kami hanya menyusun draft operet sedangkan dialog dikreasikan sendiri oleh anak remaja dan Ibu-ibu Punguan Ina dengan arahan Pembina.
  3. Anak remaja dibagi menjadi 4 kelompok yaitu Kelompok Ilmuwan, tokoh adat, pemuja teknologi dan hamba uang yang semuanya tidak percaya kepada Tuhan. Sedangkan Ibu-Ibu Punguan Ina berperan sebagai orangtua yang merasa cemas dengan prilaku anaknya yang tidak percaya Tuhan.
  4. Banyak adegan tak terduga dan kelucuan yang terjadi selama pentas tanpa direncanakan, yang membuat operet ini semakin berwarna
Over all, saya sangat bersukacita menjadi bagian dari Operet ini, juga menjadi sebuah titik pelayanan yang tidak bisa saya lupakan. Sebagai wujud sukacita saya pulalah, kali ini saya mau bagikan draft Operet ini kepada semua pembaca, semoga bisa menjadi inspirasi!


OPERET NATAL “TERNYATA TUHAN ADA”

1.       Narasi :
Bapak Ibu Saudara kekasih, dalam perayaan Natal Kolaborasi malam ini, punguan Ina, Remaja dan Sekolah Minggu akan menampilkan sebuah Operet Natal yang berjudul “Ternyata Tuhan Ada”. Operet ini menceritakan realita kehidupan manusia yang meragukan keberadaan dan kuasa Tuhan karena segala kelebihan yang mereka punya di dunia ini. Mari kita saksikan persembahan Koor Ina berikut ini:

2.       Koor Ina
3.       Narasi :
Tuhan mengaruniakan kita ilmu pengetahuan, namun pengetahuan yang tetap berdasarkan kepada firman Tuhan. Jika ilmu pengetahuan hanya dipandang untuk menjawab sebuah pertanyaan, maka kita akan kehilangan iman sehingga kita mempertuhankan pengetahuan. Akibatnya banyak pengetahuan yang menyimpang dari firman Tuhan, hal inilah yang dialami beberapa ilmuwan, mereka  meragukan kekuasaan Tuhan karena hasil penelitian mereka, berikut dua orang ibu yang mengeluhkan sikap mereka :
4.       Prolog Ibu
5.       Dialog Para Ilmuwan
6.       Narasi :
Kehidupan kita didunia ini tidak lepas dari adat istiadat, dan memang maksud adat istiadat itu kebanyakan positif bagi kehidupan kita. Namun kerapkali kita terlalu memegahkan adat tanpa memahami terlebih dahulu apakah semua adat sudah sesuai dengan  firman Tuhan, atau adatlah yang membuat kita tidak taat lagi kepada Tuhan. Jangan sampai kita mempertuhankan adat seperti tokoh adat, dua orang ibu pun mengeluhkan hal ini…

7.       Prolog Ibu
Dan inilah Para tokoh Adat yangdisambut dengan Tarian SM
8.       Dialog Tokoh Adat
9.       Narasi :
Di zaman globalisasi ini, tehnologi sudah dicicipi oleh semua lapisan masyarakat, khususnya generasi muda. Perkembangan tehnologi semakin mempengaruhi anak muda di saat tehnologi mampu menawarkan berbagai kemudahan dan keuntungan bagi penggunanya. Tanpa disadari mereka menjelma menjadi pemuja tehnologi, mereka bergantung kepada alat –alat yang canggih, bukan kepada Tuhan lagi. Mereka merasa kemajuan tehnologi dapat menggantikan Tuhan dalam kehidupan mereka. Hal ini lah yang membuat ibu mereka khawatir...

10.   Prolog Ibu
11.    Dialog Pemuja tehnologi
12.    Narasi :
Pada dasarnya semua orang bekerja keras untuk menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia, walaupun uang juga dicari untuk popularitas dan meraih kekayaan. Namun disaat uang tidak didasarkan kepada firman Tuhan, tetapi pada sifat ambisi, tamak dan rakus, maka disitulah kita mempertuhankan uang… muncullah sebutan manusia matrealistik dengan prinsip “Tiada Tuhan selain uang”. Hal inilah yang membuat para ibu berkeluh kesah.

13.   Prolog Ibu
Dan inilah mereka para hamba uang itu, mereka adalah Lady Rikha Kim Ray, Princes Ola Stefanus William dan Ratu Fifi Wulandari.
14.   Dialog Para Hamba Uang
15.   Narasi :
Begitulah,…Para ilmuwan, Para tokoh adat, para pemuja tehnologi, dan para hamba uang menyatakan mereka meragukan keberadaan dan kuasa Tuhan. Mereka tidak menyadari mereka sudah berdosa,  akankah mereka terus pada pendapat mereka bahwa Tuhan tidak ada?
Disaat mereka tersesat, datanglah hamba Tuhan yang akan mentobatkan mereka, dulunya petobat ini juga anti Kristus, namun karena mukzizat yang mereka rasakan, mereka kini menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Mereka adalah Glen Bastian Fredly dari Ambon, Cut Rafika Sari dari NAD, Michael Tambubolon dari Sinabung, dan Suryani Chan dari Kampung Cina. Mereka lah saksi Kristus yang hidup dan siap memberi kesaksian bagi kita semua. Mari kita dengarkan kesaksian mereka.

16.   Kesaksian Para Petobat
17.   Refleksi
Narasi :
Ketika mereka sudah mendengar kesaksian para Petobat, mereka tertegun dan merenung. Pada saat itulah mereka dikuasai roh kudus, bahkan malaikat-malaikat beria-ria mengelilingi mereka.
Mereka tertunduk malu menyadari dosa mereka, mengapa mereka meragukan kuasa Tuhan?
Mereka sedih dan menyesal… sungguh…menyesal,.
Kini mereka percaya bahwaTUHAN benar-benar ada, dan mereka ingin mengikut Tuhan.
Lalu mereka berdoa, mereka menyembah Tuhan, mengakui dosa mereka dan memohon ampun! Ya Tuhan, ampunilah kami, kami bertobat….dan kami ingin menjadi pengikutMu.
Kini mereka sadar mereka sudah diampuni,, maka mereka bersukacita dan bangkit berdiri…
Dan dengan penuh keyakinan mereka siap bersaksi kepada dunia, TERNYATA TUHAN ADA…

18.   Pujian Bersama



Jumat, 26 Juli 2019

New Story: TUTUR SAPA BATAK TOBA

Hai gaes, buatku menulis adalah sesuatu yang menyenangkan namun belum menjadi sebuah kesenangan. Tahun 2015 aku membuat blog ini dengan nama "Dunia Kecil Rita" dan hanya menulis beberapa story, lalu tidak pernah menulis lagi. Nah kali ini aku berniat kembali mengisi kesenangan waktuku dengan menulis kembali dengan nama blog "Rinelsa Story". Rinelsa adalah singkatan namaku, story adalah cerita/kisah. Maka kedepan blog ini akan memuat cerita atau fakta yang aku temukan dalam kehidupanku sehari-hari, yang ingin kubagikan ke kalian semua yang membaca. Semoga bermanfaat ya gaes!!

Oke sekian pembukaannya!
Seperti judul diatas, kali ini aku akan berbagi informasi seputar Tutur Sapa dalam adat Toba. Buat kita orang Batak apalagi di perantauan tentu hal ini sangat penting. Buat yang bukan suku Batak apalagi masih jomblo gak ada salahnya juga belajar, siapa tau aja jodohnya orang batak heheheheh...
Nah langsung aja berikut ringkasan Tutur Sapa dalam adat Batak Toba.
A
  • Ahu = aku, saya
  • Anak = anak laki-laki
  • Amang, damang, damang parsinuan = ayah, bapak.
  • Amang = sapaan umum menghormati kaum laki-laki.
  • Amanta, amanta raja = sapaan dalam sebuah acara pertemuan.
  • Amanguda = adik laki-laki dari ayah kita.
  • Amanguda = suami dari adik ibu kita.
  • Amangtua = abang dari ayah kita.
  • Amangtua = suami dari kakak ibu kita sendiri.
  • Amanguda/amangtua = suami dari pariban ayah kita.
  • Angkang = abang.
  • Angkangdoli = abang yang sudah kawin.
  • Angkang boru = isteri abang; Kakak yang boru tulang kita.
  • Anggi = adik kita (laki-laki); adik (perempuan) boru tulang kita.
  • Anggi doli = suami dari anggiboru; adik (laki-laki) sudah kawin.
  • Anggiboru, isteri adik kita yang laki-laki.
  • Amangboru = suami kakak/adik perempuan ayah kita.
  • Amangtua/inangtua mangulaki = ompung ayah kita.
  • Ama Naposo = anak (laki-laki) abang/adik dari hulahula kita.
  • Angkangboru mangulaki = namboru ayah dari seorang perempuan.
  • Ampara = penyapa awal sealur marga; marhaha-maranggi.
  • Aleale = teman akrab (bisa saja berbeda marga).



B

  • Bao, amangbao = suami dari eda seorang ibu.
  • Bao, inangbao = isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).
  • Bere = semua anak (laki-laki + perempuan) dari kakak atau adik perempuan kita.
  • Bere = semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.
  • Boru = semua pihak keluarga menantu (laki-laki) kita/amangboru.
  • Boru = anak kandung kita (perempuan) bersama suaminya.
  • Borutubu = semua menantu (laki-laki) / isteri dari satu ompung.
  • Boru Nagojong, borunamatua = keturunan namboru kakek.
  • Boru diampuan = keturunan dari namboru ayah.
  • Bonatulang = tulang dari ayah kita.
  • Bona niari = tulang dari kakek kita.
  • Bonaniari binsar = tulang dari ayah kakek kita.



C

  • Damang = ayah; bapak
  • Damang = sapaan kasih sayang dari anak kepada ayahnya.
  • Damang = digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.
  • Dainang = sebutan kasih sayang anak kepada ibunya.
  • Dainang = digunakan juga oleh ayah kepada anak perempuannya.
  • Daompung baoa+boru = kakek atau nenek kita.
  • Datulang = sebutan hormat khusus kepada tulang.
  • Dahahang (baoa+boru) = abang kita atau isterinya.
  • Dongan saboltok, dongan sabutuha = satu keluarga (sebutan lokal).
  • Dongantubu = abang adik (serupa marga).
  • Dongan sahuta = kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta (kampung).
  • Dongansapadan = dianggap semarga karena diikat oleh padan (janji).



E

  • Eda = kakak/adik ipar antar perempuan.
  • Eda = sapa awal antara sesama wanita.



H

  • Hahadoli = sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.
  • Haha doli = abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.
  • Haha = abang (berbeda sekali artinya dengan Hahadoli dan Haha doli).
  • Hahaboru = isteri abang kita, yang dihormati.
  • Haha Ni Hela = abang dari mantu kita.
  • Haha Ni Uhum = paling tua dalam silsilah sekelompok.
  • Hulahula = keluarga abang/adik dari isteri kita.
  • Hela = menantu (laki-laki) kita sendiri.
  • Hela = juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.
  • Hami = kami (sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri).
  • Hamu = sebutan atas pihak lawan bicara.
  • Hita = kita (menunjuk kelompok kita sendiri).
  • Halak = orang (menunjuk kepada kelompok orang lain).
  • Halak i = orang itu (dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen).
  • Ho = kau (terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita).



I

  • Iba (ahu) = saya.
  • Ibana = dia (penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita).
  • Ibebere = keluarga dari suami bere kita yang perempuan.
  • Inang, dainang = ibu (juga sebutan kasih kepada puteri kita).
  • Inang (simatua) =ibu mertua.
  • Inangbao = isteri dari hulahula atau tunggane kita.
  • Inanta = sebutan penghormatan bagi wanita yang sudah kawin.
  • Inanta soripada = kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.
  • Inanguda = isteri dari adik ayah; ada juga inanguda marpariban.
  • Inangtua = isteri dari abang ayah; ada juga inangtua marpariban.
  • Inangbaju = semua adik perempuan (belum kawin) dari ibu kita .
  • Inangnaposo = isteri dari paraman/amangnaposo kita.
  • Indikindik = cucu dari cucu perempuan kita - Sudah amat jarang ada.
  • Ito, iboto = kakak/adik perempuan kita (serupa marga).
  • Ito = tutur sapa awal dari laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya.
  • Ito = panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.



J

  • Jolma, jolmana = isterinya.
  • Jolmangku = isteriku.



L

  • Lae = tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (laki-laki).
  • Lae = tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.
  • Lae = suami dari kakak atau adik kita sendiri (laki-laki)
  • Lae = anak laki-laki dari namboru kita (laki-laki)



M

  • Maen = anak-gadis dari hulahula kita.
  • Marsada inangboru = abang adik karena ibu kita kakak-adik.



N

  • Namboru = kakak/adik ayah kita .
  • Nantulang = isteri dari tulang kita.
  • Nasida = mereka (penunjuk seseorang yang dihormati).
  • Nasida, halak-nasida = amat diormati karena berpantangan.
  • Natoras = orangtua kandung.
  • Natuatua = orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.
  • Nini = anak dari cucu laki-laki.
  • Nono = anak dari cucu perempuan.



O

  • Ondokondok = cucu dari cucu laki-laki kita - sudah jarang disebutkan.
  • Ompung, ompungdoli, ompung suhut = ayah dari bapak kita.
  • Ompungbao, daompung = orangtua dari ibu kandung kita.
  • Ompungboru = ibu dari ayah kita.



P

  • Pahompu = cucu (anak-anak dari semua anak kita).
  • Pinaribot = sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.
  • Paramaan = anak (laki-laki) dari hulahula kita.
  • Parboruon = semua kelompok namboru atau menantu (laki-laki) kita.
  • Pargellengon = sama Parboruon tetapi maknanya lebih meluas.
  • Parrajaon = semua kelompok dari hulahula dan tulang kita.
  • Pariban = abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.
  • Pariban = semua anak perempuan dari pihak tulang kita.
  • Pariban = anak perempuan yang sudah kawin, dari pariban mertua prp.
  • Parumaen = mantu perempuan (isteri anak kita).
  • Pamarai = abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.



R

  • Rorobot, tulangrorobot = tulang isteri (bukan narobot).



S

  • Sinonduk, Parsonduk bolon = suami;  sedangkan pardijabu = istri.
  • Simatua doli dan simatua boru = mertua laki-laki dan perempuan.
  • Simolohon (simandokhon atau iboto) = kakak atau adik laki-laki.
  • Suhut = pemilik hajatan; sedangkan Paidua ni suhut = orang kedua.



T

  • Tulang = abang/adik dari ibu kita.
  • Tulang/nantulang = mertua dari adik kita yang laki-laki.
  • Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.
  • Tulang Ni Hela = tulang dari pengantin laki-laki.
  • Tulang/nantulang mangulaki = panggilan cucu kepada mertua.
  • Tunggane = semua abang dan adik (laki-laki) dari isteri kita.
  • Tunggane = semua anak laki-laki dari tulang kita.
  • Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
  • Tunggane boru, inang siadopan, pardijabunami = isteri.
  • Tunggane huta = raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.
  • Tuan doli = suami.
  • Tuan boru = isteri
Semoga bermanfaat ya, HORASS.....!!
SUMBER: http://hutagalung-cyber.blogspot.com/2012/12/TuturSapaBatakToba.html

DRAMA PASKAH "KEBANGKITAN YESUS"

Sebuah fragmen karya HKBP Takengon yang diperankan oleh Punguan Ina HKBP Takengon untuk memperingati hari paskah tahun 2012. Drama ini diada...